Rabu, 18 September 2013

Sebuah Protes

Untuk ke sekian kalinya saya temukan lagi spanduk semacam ini. Spanduk iklan tentang sebuah even di klub malam. Saya lihat iklan ini di tempat yang sama seperti dulu pernah saya melihatnya. Di perempatan bulak sumur. Di sebelah barat dan selatannya taka sing adalah gedung milik universitas ternama di negri ini. Seringkali orang menyebutnya Kampus Biru atau Kampus Kerakyatan (tapi tetap lebih nyaman disebut UGM).
source: My Pict
Ribuan anak muda dari berbagai penjuru bumi Indonesia setiap tahunnya memasuki kampus ini. Tak dapat dipungkiri bahwa UGM tetap terpandang di negri ini. Sudah banyak tokoh di negri ini yang dahulu pernah mengenyam pendidikan di UGM. Maka peran kampus ini di kancah pembangunan bangsa dan Negara tidaklah diragukan. Jika tidak berlebihan maka saya ingin menyebut bahwa di kampus ini termasuk tempat pembentukkan kader pemimpin bangsa.
Penerus perjuangan bangsa yang dibina dengan khazanah ilmu, tentu menjadi tonggak harapan bagi jutaan orang yang tidak berkesmpatan mengenyam pendidikan tinggi.  Jangankan mengenyam pendidikan tinggi, untuk dapat merasakan sesuap nasi saja, masih banyak orang di negri ini yang tidak bisa merasakan nikmatnya.  Jadi, julukan “The Agen of Change” bagi mahasiswa itu harus bisa ditampakkan oleh mereka. Satu diantara hal untuk menunjukkannya adalah sikap peduli.
Berkaitan dengan spanduk yang terpajang dalam tulisan ini bertanyalah saya dalam hati (meskipun saya sendiri belum bisa berbuat apa-apa) kemana para aktivis kampus penentang degradasi moral bangsa ini? Jika sudah kesekian kalinya spanduk ini terpasang di kampus kenamaan ini, kenapa tidak ada aksi turun ke jalan memprotes ulah para kapitalis hiburan malam? Bukankah perlawanan terhadap kapitalis hedon ini juga bagian dari perjuangan?
Saya sangat meyakini bahwa setiap harinya ada ribuan orang melintas kea rah timur perempatan ini. Ya, arah dimana spanduk itu terpampang. Ya, arah itu adalah salah satu jalan penghubung ke kampus lain, juga jalan menuju ke perkampungan dimana banyak terdapat kos-kosan. Jika demikian, siapa diharap datang di acara hura-hura pemuja hedonism? Haruskah kita diam? Patutkah kita acuh?
Mari kita jawab!

2 komentar:

Atik Setyoasih mengatakan...

berjalan sambil refleksi diri :) Apa yang bisa kita lakukan ????

Atik Setyoasih mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.